Senin, 03 Juli 2017

Resume Satanic Finance

            Buku Satanic Finance ini membahas apa yang sebenarnya menjadi akar permasalahan ekonomi saat ini. Saat dimana para ahli ekonomi dunia dibisiki oleh setan untuk mengatur perekonomian dunia ini dengan cara yang dzalim. Maka, para ekonom, politikus atau siapa saja yang menjadi pengatur ekonomi yang memiliki iman lemah berhasil terdaftar menjadi para sahabat setan itu.
            Tiga pilar yang paling mendasar serta menjadi jurus utama para setan dalam menghancurkan sistem perekonomian adalah fiat money, fractional reserve requirement dan interest yaitu uang kertas, cadangan minimum, serta bunga yang mengandung riba. Hal inilah yang dapat menghancurkan ekonomi apabila terus diterapkan dalam sistem perekonomian.
            Buku ini mengisahkan sebuah cerita tentang 2 orang asing yang dating ke suatu negeri yang penduduknya sangat makmur dan damai. Tolong menolong adalah budaya utamanya. Mereka dating menawarkan mesin pencetak uang kertas yang akhirnya membinasakan negeri tersebut. Hal ini tentunya terjadi melalui berbagai tahapan.
            Pertama, mereka mencetak uang kertas dengan iming-iming menciptakan alat tukar yang lebih praktis. Maka masyarakat beramai-ramai datang untuk menukarkan emasnya dengan uang kertas yang sebenarnya tidak bernilai namun memiliki pengakuan di daerah tersebut saja.
            Permasalahan muncul ketika dua orang asing ini mulai dirasuki setan dengan keserakahan, mereka melihat bahwa masyarakat yang menukar kembali uang-uang itu dengan emas mereka hanya sebesar 10%, akhirnya para sahabat setan ini mencetak lebih banyak uang kertas yang sebenarnya tidak memiliki cadangan emas dan diedarkan kepada masyarakat dengan cara memberi pinjaman dan juga harus dibayar melebihi hutang yang diambil (bunga) sehingga peredaran uang meningkat dan akhirnya terjadi inflasi.
            Harga-harga barang dan jasa menjadi naik. Orang-orang yang meminjam uang kepada bank tidak sanggup membayar hutang-hutang mereka meskipun mereka telah bekerja keras. Tentu saja hal ini terjadi sebagai akibat lebih banyak nilai yang dibutuhkan dibanding dengan uang beredar ditambah uang-uang yang tidak mempunya backup emas.
Maka inilah saat-saat krisis dalam ekonomi, dimana orang-orang menjadi miskin akibat harta mereka yang ikut disita oleh bank karena mereka tidak mampu membayar semua hutangnya. Rasa tolong-menolong yang dulu merupakan budaya utama masyarakat tersebut, menghilang seketika karena mereka disibukkan dengan hutang dan masalah masing-masing yang tak kunjung selesai dan akhirnya menjadi masyarakat yang individualis dan egois.
Dalam buku ini juga dijelaskan bahanya hutang yang menjerat anak manusia, kebiasaan berhutang yang ada pada masyarakat saat ini yang sebenarnya merupakan masalah besar di akhirat nanti apabila ia tidak berhasil membayar hutanngnya. Apalagi hutang-hutang yang dilakukan hanya karena ingin mengikuti gaya hidup yang berlebihan dan percuma.

Salah satu bahaya hutang dalam perspektif individu hingga Negara adalah saat hutang berbuah perbudakan. Negara-negara yang mempunyai hutang terhadap Negara lain terpaksa mengikuti aturan-aturan main yang diberikan Negara yang memberi pinjaman bahkan jika tidak sesuai prinsip sekalipun dikarenakan hutang yang menghantui.

Salah satu solusi dari permasalah diatas adalah usaha mendobrak sistem perekonomian kapitalis itu menjadi sistem perekonomian yang diperintahkan Islam sebagaimana terdapat dalam quran dan hadis. Usaha yang lain adalah mengganti kertas-kertas tak berharga itu dengan koin emas yang terus stabil dari zaman ke zaman atau minimal menjadi backup uang-uang masyarakat yang dilakukan dengan jujur. Dan termasuk usaha yang paling penting adalah menghilangkan riba yang dosanya sangat besar itu. Keuntungan sedikit yang diperoleh dari riba di dunia itu sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding hukumannya dipanggang hidup-hidup di neraka Jahannam. 



Abby Tanagara (H54150075)

Selasa, 28 Februari 2017

Perilaku konsumen

Ilmu Ekonomi [Ekonomi Syariah] (ie.ipb.ac.id)
Fakultas Ekonomi dan Manajemen (fem.ipb.ac.id)
Institut Pertanian Bogor (ipb.ac.id)

Kuliah Perilaku Konsumen IKK233 (Consumer Behavior Class)

Departement of Family and Consumer Science (www.ikk.fema.ipb.ac.id)
Collage of Human Ecology (www.fema.ipb.ac.id)
Institut Pertanian Bogor (ipb.ac.id)

Nama Dosen:
Prof Dr Ir UJANG SUMARWAN, MSc (www.sumarwan.staff.ipb.ac.id, www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id, sumarwan@mb.ipb.ac.id)
Dr. Ir. Lilik Noor Yuliati, MFSA
Dr. Ir. Megawati Simanjuntak, MS
Ir. Ratnaningsih, MS
Ir. Md Djamaludin, MSc


Ujang Sumarwan. 2011. Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Jakarta: PT Ghalia Indonesia





Kuliah Rabu Siang 22 Februari 2017

Globalisation Benefiting Consumer

There’s two keyword from this paragraph, that is globalization and consumer. Globalization is a process by which businesses or other organizations develop international influence or start operating on an international scale. Globalization is the freer movement of goods, services investment, ideas and people around the world. It can also be thought of as a removal of barriers. Consumer is an individual who buys products or services for personal use and not for manufacture or resale. A consumer is someone who can make the decision whether or not to purchase an item at the store, and someone who can be influenced by marketing and advertisements. Any time someone goes to a store and purchases a toy, shirt, beverage, or anything else, they are making that decision as a consumer.

Consumers now have a diverse purchasing choice thanks to globalization movement. The internet has contributed to purchasing choices, as consumers have the opportunity to surf the web in the comfort of their own home (products available from all over the world). Globalization has changed consumer’s buying behaviour in a new advantageous way, than ever before.


In a consumer-driven economy, people vote with their dollars. The level of U.S. imports is testimony to the consumers’ acceptance of foreign-made goods. While many consumers give lip service to the desire to buy American-made products, most do not. Some consumers express concern about the working conditions of overseas workers. The fair trade movement is the result; fair trade items are produced by workers who receive larger and fairer compensation for what they produce. The internet, of course, is one of the driving forces of globalization. Consumers can bypass the local merchant and search the world to find the products the desire.
Consumers have more purchasing choices than ever before thanks to the globalization movement. The Internet has opened new opportunities for browsing from the comfort of home, and there are products available from all over the world. Globalization has changed consumer buying behavior in ways that could never have been anticipated